Cerita Yustine

Cerita Yustine
a story of love and life

yang udah mampir

Hit Counter

Senin, 22 Februari 2016

Warmindo



Belakangan, karena lumayan selo (baca : banyak waktu), saya dan teman-teman seringkali mencari tempat yang enak untuk sarapan bareng setelah mengantar anak-anak sekolah. Jam tujuh pagi, yang udah buka apalagi selain warung burjo? Ya ada sih beberapa resto yang buka pagi-pagi gitu, tapi kan kadang kita Cuma butuh tempat untuk saling bercerita sekaligus mengusir kejenuhan dengan pekerjaan rumah tangga. Ibu-ibu juga butuh santai, keles! 

Jogja itu emang istimewa, selain terkenal dengan angkringan, dimana seluruh lapisan masyarakat bisa duduk dan pesan kopi atau teh jahe dan menikmati gorengan yang lebih sedap kalau dibakar sebelum dimakan, juga terkenal dengan menjamurnya warung burjo. Well, selain minimarket 24 jam sih. Dulu waktu saya masih kuliah, warung burjo itu ya jualan bubur kacang ijo sebagai menu utama. Selain itu ada juga menu lain yang dijadikan singkatan lucu-lucu seperti : tante (indomie tanpa telur), joshua (extra joss susu), dan masih banyak menu lain. 

Dalam perkembangannya, warung burjo  sekarang sudah jarang yang menyediakan menu bubur kacang ijo. Kebanyakan malah menjual nasi rames lengkap dengan minuman pastinya. Dan yang saya lihat sekarang namanya berubah menjadi warmindo.
Apapun itu, 500 meter dari komplek perumahan saya ada sekitar 6 warmindo yang buka 24 jam, dan satu sama lain berjarak tidak terlalu jauh. Ibarat kata dimana ada Indomaret pasti ada Alfamart, nah seperti itulah keberadaan warmindo di sekitar rumah. Tentu saja itu memudahkan ibu rumah tangga yang kadang pemalas seperti saya ini, lagi pengen minum es coffeemix udah deh beli aja di warmindo, murah kok Cuma Rp 3000 per bungkus. Hihihi..

Yang datang juga beragam kalangan, kebanyakan sih mahasiswa atau bapak-bapak Polisi (kebetulan rumah dekat dengan polsek), yang mungkin bosan dengan jajanan di kantin kantor mereka, atau bahkan warga sekitar, dan pastinya ibu-ibu selo seperti saya ini.
Warmindo yang sering kami kunjungi letaknya di pojokan jalan, cukup strategis, luas, dan parkiran pun nyaman. Gak perlu khawatir mobil bakalan kesenggol pengendara lain karena parkir bisa di halaman warmindo itu. Pokoknya pas lah untuk sekedar nongkrong sejam dua jam.

Nah, karena yang datang dari banyak kalangan, seringkali kami disuguhkan pemandangan ajaib dari pengunjung lain: tukang angkut sampah yang pake sneaker keren, duduk menikmati semangkok indomie rebus panas mengepul dan es teh dua gelas, sales barang elektronik yang menunggu jam masuk kantor sambil menelepon sana sini mengejar target, pegawai pemerintahan yang mungkin tidak sempat sarapan di rumah, sekelompok mahasiswa jago begadang, terlihat dari leceknya baju yang mereka pakai berikut rambut yang tidak pernah disisir, sekelompok mahasiswa baik-baik yang pulang kuliah pagi kemudian duduk-duduk dan membicarakan materi kuliah pagi itu, sekelompok anak distro yang mengambil tempat di pojokan lalu ribut membicarakan pameran indi clothing, beberapa orang pulang olahraga pagi, beberapa pasangan mesra, beberapa pasangan yang sedang bertengkar, bahkan (mungkin) pasangan selingkuhan hihihiihi. 

Yang terakhir ini rasanya seperti menonton drama. Minggu ini mereka datang dengan kendaraan berbeda, minum segelas berdua, duduk di tempat paling tersembunyi, cekikikan mesra. Minggu depan mereka datang masih dengan kendaraan yang berbeda, dari arah yang berbeda, duduk di tempat yang sama, hanya kali ini saling berhadapan. Kemudian drama pun dimulai, sang wanita meremas-remas rambutnya sendiri sambil menangis tersedu-sedu, cukup keras untuk didengar seluruh pengunjung, sialnya saat itu pengunjungnya hanya saya dan seorang teman. “kamu tega mas, kamu gak mikir perasaan aku, kamu Cuma mikirin rumah tangga mu aja, aku gimana?, mana semua janji kamu? Kamu jahat! ”
Errrr... rasanya pengen ke tengah mereka dan bilang “ciye..marahan ciye...” hahahhaha.

Begitulah realita, bukan? Yang jelas saya masih akan tetap duduk di tempat yang sama, pesan milo panas dan bercerita dengan teman-teman kemudian pulang, mengurus rumah tangga.
Karena hidup memang sebuah perjalanan.



Selasa, 22 September 2015

Full Time Mom (Finally)

Melihat posting-an seorang teman yang full perjalanan dinas setiap bulan dan keluhannya terpaksa meninggalkan anak-anak, saya tersenyum pahit mengingat sepuluh tahun terakhir itulah yang terjadi dengan hidup saya, dan berakhir beberapa bulan ini sejak saya menjadi full time mom. 

Apa? Serius?
Yes, I am. Sejak bulan Februari akhirnya saya merasakan menjadi seorang ibu rumah tangga, full time mom, part time seller, full time selo mom, you named it. 

Kenapa? Kan kerjaan mu yang sekarang enak, udah permanen, di kantor juga gak banyak kerjaan.
Kenapa? Kan kamu masih muda, masih produktif,
Kenapa? Gak sayang ijazah dan pengalaman kerja selama ini? Orang banyak yang susah loh dapat kerjaan, kamu lepasin gitu aja.

Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tersenyum. 

Kenapa? Gak kangen ya pake baju kerja, cantik, wangi, high heels, belanja dengan gaji sendiri, presentasi, dinas luar kota?

Saya menjawab pertanyaan itu dengan " Menurut lo? Ya kangen gila!"

He he he...

Iya saya memang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan itu, dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Bukan tanpa kegalauan, bukan tanpa melamun berhari-hari sebelum ngasi surat resign (itupun berkali-kali revisi karena saking galaunya saya salah nulis tahun lahir, salah nulis tanggal lahir dan masih banyak lagi). 
Melepaskan kebiasaan dan rutinitas bangun-urus anak-antar sekolah tanpa mandi - ke pasar - masak gedubrakan - mandi - dandan seadanya nanti dibenerin di kantor - menjelma jadi wanita kantoran - pulang malam mampir dulu beli keperluan anak - belum lepas blazer sudah diserbu dengan PR anak - mandi jam 9 malam - belum kalau harus keluar kota - dan sebagainya, bukan perkara mudah. 

Namun, akhirnya saya memantapkan diri untuk menekuni saja bisnis online shop yang sudah sekitar lima tahun ini saya jadikan penghasilan sampingan,tepatnya untuk belanja online juga hehe. 
Banyak yang menyarankan, jika ingin berbisnis, konsisten lah mengatur waktu, target, dan dispilin diri sendiri karena sudah tidak ada yang menggaji. Kerja banyak, hasil banyak. Kerja malas, hasil juga tidak akan mengkhianati proses, bukan?

Di hari-hari pertama setelah saya resign, saya masih memperlakukan diri sendiri seperti ketika saya menjadi marketing dulu. Memberi target, dan harus terpenuhi, duduk tegak bekerja sampai sore. Tentu saja dengan toleransi tingkat tinggi menyiapkan anak-anak makan siang. Hasilnya? Lumayan, tidak jauh berbeda dengan gaji yang saya terima per bulan ketika saya bekerja kantoran. Saya semakin bersemangat menjalankan bisnis ini. Bisnis yang bisa saya jalankan dimana saja. Walaupun memang naik turun omset sudah menjadi warna dalam kehidupan baru saya, tetapi pelan-pelan saya mulai bisa menerima keadaan.

Keadaan yang seperti apa? Ya yang seperti sekarang, saya punya jam istirahat tidak terbatas, kerja sambil tiduran atau nonton film, boleh. Sambil memasak? Bisa dong! Sambil setrika? Iya bisa, sambil nungguin anak les? Bisa. Pelan-pelan semua akhirnya menyesuaikan. Saya sekarang lebih suka mandi dan berdandan sewajarnya sebelum mengantar anak sekolah. Baju yang saya pakai pun sudah tidak lagi formal. Cenderung yang nyaman dipakai seharian untuk antar-jemput anak. 

Belanja baju atau sepatu? Ya menyesuaikan, saya sangat mengurangi membeli high heels, toh betis juga sudah tidak semuda dulu, resiko kram lebih besar hahaha. Blazer juga tetap beli tapi yang lebih casual karena bawahnya dipakein ripped jeans. Tetap kekinian ya haha.

Belanja tas? Ya masih, tapi tidak senafsu dulu. Toh juga saya lebih suka pakai tas kecil kalau cuma antar anak sekolah. 
Belanja make up? Masih dong, tapi paling beli bedak aja, eyeshadow agak jarang terpakai, apalagi bulu mata palsu, masih numpuk tuh tiga lusin hihihi. 
Ke salon? Masih juga, hanya tidak sesering dulu, bye bye curly hair before meeting. Cukup diroll dan diikat agak lama ntar jadi curly kok. 
Sekarang saya bisa liburan tanpa harus mengajukan cuti. Sayangnya dana liburan juga jarang ada hahahaha... 

Sejak saya di rumah, anak-anak sudah bisa berenang, karena saya ada waktu untuk nganter mereka latihan. Les Bahasa Inggris juga bisa, seminggu dua kali malah. Saya juga gak perlu repot menelpon ke sekolah kalau mereka belum pulang, saya tinggal jemput sendiri aja. Puji Tuhan, sejauh ini mereka belum pernah sakit seperti dulu ketika saya masih harus kesana kesini. Semoga sehat terus ya Nak.

Rasanya gak gajian lagi? Lupa tanggal, huhuhuhu.. Ini serius! Mungkin karena gak ada yang ditungguin tiap bulan ya, jadi saya ingatnya cuma kalau jatah bayar SPP sama bayar les-les aja. 
Rasanya gak gajian? Ya banyak pos yang harus dihilangkan, seperti yang sudah saya tulis di atas. Termasuk jatah jajan dan mainan baru-karena emaknya merasa bersalah pulang malam-. Sekarang saya lebih suka membuatkan anak-anak jus atau cemilan untuk mereka makan sore hari. 

Ketika bekerja, banyak hal yang saya lewatkan ternyata. Dulu setiap anak-anak pulang sore saya harus membuatkan bekal untuk dimakan pas istirahat dengan resiko nasi sudah dingin. Sekarang saya bisa datang pas jam istirahat bawa makanan yang hangat. Rasanya lihat wajah ceria mereka lihat emaknya nongkrong di kantin itu, priceless! 

Kangen gak balik kerja? Pasti! Ada masa-masa dimana saya terdiam di depan jejeran blazer dan rok kerja di toko baju, rasanya nyesek. Kangen bener dengan rutinitas itu. Ada saatnya saya merasa perbendaharaan kata saya untuk presentasi hilang. Entahlah kalau diwawancara lagi saya masih bisa sebaik dulu atau tidak. 

Pengen ngantor lagi? Saat ini belum, saya masih menikmati peran saya sekarang. Finansial? Biarlah matematika Gusti yang menentukan, selama kita berusaha dan berjuang pasti Dia membuka jalan. 
Saya masih senang ngopi bersama sahabat setiap pagi di warung burjo. Iya, kami begitu orangnya hehe.
Saya masih senang melihat anak-anak mengerjakan PR siang hari gak perlu ngebut di malam hari berlomba dengan rasa kantuk mereka dan rasa capek saya seperti dulu.
Saya masih menikmati mengantar mereka tanpa harus menunggu saya libur.



Waktu masih jadi wanita 'sok" kantoran :p

dan sekarang, lihat bedanya 




Untuk para ibu bekerja di luar sana, semangat Mom! Semua peran sudah diatur, mungkin suatu saat kalian ada di posisi saya sekarang, atau saya kembali menjadi ibu bekerja yang gedubrakan setiap hari? Siapa yang tahu? Hidup tidak pernah terduga, karena hidup hanyalah perjalanan, bukan tujuan. 




Rabu, 01 Oktober 2014

Susahnya Jadi Orang Tua

Nah, baca judulnya aja pasti bikin sebagian orangtua terutama yang punya anak menginjak usia remaja ikutan menghela nafas. Beneran deh, berasa banget makin hari anak-anak makin besar, makin banyak argumen setiap hari, makin sulit mencari kata-kata yang tepat untuk ngasi tau mereka. Dibilang "nakal" wah, udah gak jaman, itu sih kata-kata waktu saya kecil dulu. Sekarang harus bilang mereka aktif. Ya kurang lebih begitulah.

Setahun yang lalu saya dicurhat-in sama seorang teman yang mengeluhkan betapa anaknya yang waktu itu kelas empat SD udah mulai sulit nurut. Ada aja hal yang jadi keributan setiap hari. Saya pikir, ah masa sih? Ternyata, nah.. gak perlu menunggu lama untuk menyadari bahwa curhat teman saya itu benar adanya. 

Sekarang Kevin sudah kelas empat SD. Bile kelas dua SD. Wah, udah mulai keliatan jauh lah perbedaan sifat mereka. Tanpa bermaksud mengeksplorasi sifat anak nih ya, ini beneran isi hati seorang Emak. Hihihihi..


1. Pakaian

Mereka berdua ini sama-sama suka pake baju yang matching. Well, ini ajaran Emaknya sih, hehe.. Overall mereka suka pake pencil jeans sama kemeja yang slimfit. Apalagi Kevin, wah... dia suka banget pake baju yang mepet alias hampir kekecilan. Tiap mau ke gereja atau ke sekolah, seringnya saya berantem sama dia soal baju. Suka kesel aja sih, baju yang udah dari dia kelas satu SD masih suka dipake, kan udah lusuh dan celananya juga udah sempit. Tapi entah kenapa, Kevin selalu pengen pake yang udah kekecilan gitu. Saya takut aja kalo tiba-tiba sobek. Dengan perdebatan sengit akhirnya kita nemu jalan tengah, sebelum ke gereja saya suruh milih sendiri baju yang mau dia pakai yang mana. Kalo misal saya liat dia pakai itu-itu aja ya saya minta ganti.
Untuk seragam, dia nurut juga untuk pake celana yang baru tiap Senin dan Jumat. Sabtu harus pake yang celana kelas satu SD itu. Ya sudahlah, daripada berantem melulu. Si Emak mau gak mau harus rela liat anaknya bercelana sedikit kekecilan. Fyuh...

Kalau Bile sih masih cenderung nurut. Asal dia ngerasa nyaman gak akan protes. Paling dia nentuin sendiri baju yang dia suka. Dan kalo dia gak mau ya gak bisa dipake juga. 
Nah, ini dia ni celana Kev yang udah kekecilan

























2. Pelajaran

Sejak awal, kelihatan sih kalo Kevin lebih serius dalam hal pelajaran dibandingkan Bile. Mulai tahun ajaran ini, mereka dapet kurikulum baru. Dimana semua pelajaran dijadikan satu dengan nama Tematik. Jujur, emaknya puyeng juga. Bertahun-tahun sejak sekolah dulu, yang namanya Matematika ya satu, baru dipisah setelah SMP menjadi Aljabar, Geometri, dll. Setelah kuliah baru lebih spesifik jadi Aljabar Linear, Matematika Diskrit dan sebagainya. 

Nah sekarang ini pelajaran mereka gak begitu, temans... Contohnya ni ya, mereka dikasi pelajaran tentang rumah adat Aceh yang ujung atapnya lancip. Nanti nyambung ke berbagai jenis sudut, lalu dilanjutkan dengan makanan khas daerah tersebut berikut keseniannya, harga makanan lalu lanjut dengan nilai taksiran suatu barang. Masih disambung dengan kata tidak baku dalam suatu bacaan, dilanjutkan dengan bunyi, sumber bunyi, penghantar bunyi lalu jenis musik deh. Nah lo... semuanya itu bisa dirangkum dalam sepuluh nomor pertanyaan saja. 

Sebenarnya sih kalau dilihat lagi ya lebih mudah, anak-anak gak lagi bawa lemari buku dalam tas mereka setiap hari. Mereka hanya perlu menggunakan logika untuk mencapai suatu kesimpulan. Dan itu akan lebih mudah diterapkan kepada anak yang sudah lebih besar seperti Kevin. Dia akan dengan senang hati mendengarkan penjelasan bagaimana caranya dia harus paham mengenai pembulatan harga dalam Rupiah, dan sebagainya. Dan menjelaskan kepada anak jaman sekarang ini harus detail ya, thank u Wikipedia deh pokoknya. Kadang saya juga takjub pas sampai rumah tu anak berdua udah di depan laptop aja, googling jawaban PR yang gak mereka ketahui. 
















Bagaimana dengan Bile? Sebentar ya, *lapjidat* 
Bile sih seringnya dengan wajah tidak berdosa kalau ditanyain gimana ujiannya tadi jawabnya "Gampang kok.." taunya toweweng... remidi hahaha....
Bagaimana anak yang belum terlalu paham konsep perkalian, pembagian, pengurangan diminta untuk menjawab darimana dia bisa mendapatkan angka 10, misalnya. Kalo lebih besar bisa mikir kali  ya, oh, dari 20 dibagi dua. Nah Bile? huahhhhh T_T

Kemarin saya minta Bile untuk menentukan sendiri nilai lompat berapa dari suatu bilangan. Dengan cueknya dia jawab "Ah, lompat satu aja ah.. kan gampang tuh Ma"
Eaaaa... 



















Untuk pelajaran sekali lagi saya gak pernah mentarget anak-anak untuk mendapat hasil yang excellent. Semampu mereka aja. Saya juga lumayan tertatih-tatih ngikutin pelajaran anak-anak sekarang. Jauh beda deh pokoknya. 

Dan saya juga biasain mereka untuk siapin buku sendiri. Kalau misalnya ketinggalan di rumah, ya gak akan saya anterin, biar belajar bahwa mereka harus bertanggung jawab. Pernah sih sekali waktu Kevin telfon dari sekolah minta tolong saya nganterin buku catatannya yang ketinggalan. Berhubung keliatannya penting banget ya udah sekalian jalan ke kantor saya anterin deh bukunya. 


3. Pertemanan

Dari TK, Bile udah mastiin bahwa dia pacaran sama Abel. Teman sekolahnya yang emang cantik. Aduh... pacaran ya, huf.... tarik nafas ni Emaknya. Mereka berdua sekarang sudah punya handphone. Dengan syarat Mama harus tau incoming outgoing call, inbox dan sent item. NO BBM, No FB atau sosmed lainnya. Dan perjanjian sampai mereka usia ummm tujuhbelas Mama boleh liat handphone nya. Khawatir ya bow.. hari gini. 
Suatu siang Bile telfon saya 
"Mom, tolong dong isikan pulsa, ini si Abel minta maaf karena salah, aku gak bisa bales sms nya, please ya Mom" *Glek*

Sampai di rumah saya minta izin Bile untuk buka sms nya. Dibolehin. Nah beginilah conversation Bile dan Abel (kurang lebih)

Abel : Bil, lagi apa?

Bile : Main PSP, kamu?

Abel : Ini mau makan steak sama keluargaku. 

Abel : Kamu pacarnya siapa sih Bile?

Abel : Kok diem sih? kan aku udah minta maaf

Bile : Tadi aku lagi makan. Kenapa emangnya?

Abel : Ya nanya aja. kamu pacarnya siapa? huruf depannya?

Bile  : Kalo kamu? 

Abel : B

Abel : I

Abel : L

Abel : E

(iya, disent satu-satu gitu)

Bile : pacarku? ya ABEL

Abel : Bukan Clara? katanya Clara suka kamu

Bile : Dibahas besok!


*gegulingan* huaaaaaa Emaknya nangis T_T

Tarik nafas, nanya baik-baik

Me : Abang, jadi abang pacaran sama Abel?

Bile : Iya *mantap

Me : Abang tau artinya pacaran?

Bile : Kekasih! *tambah mantap

Me : *tariknafas Kekasih itu apa?

Bile : Gak tau, ya sms an gitu aja sih 

Me : Oke, gini ya Bang, orang menyebut pacaran itu sih kalau kedua orang itu udah dewsa dan udah kerja. Contohnya kayak Om Pie sama Tante Ditha. Kan udah kerja tuh mereka

Bile : Kalau belum kenapa emangnya?

Me : Kalau masih seumur abang sih lebih enak berteman sebanyak-banyaknya. Kalau berduaan terus, jadi gak punya temen deh, padahal kan lebih asyik tuh punya temen banyak. Lagian abang belum punya uang sendiri kan, jadi ya bilang Abel jangan sebut pacaran ya, ntar aja kalo udah gede. 

Bile : Oh, gitu.. iya lah. Gampang itu 

huaaa huaa huaaa *nangis kejer. 

Ya abis itu sih mereka sms an nya cuma nanya jadwal pelajaran aja. Duh Nak...

Kalo Kevin hmmmm gak terlalu banyak cerita tentang lawan jenis. Dia cuma bilang dia suka sama anak baru, namanya Naomi. Karena pinter hihihi... 

Bener-bener deh ya anak jaman sekarang. Emaknya dulu naksir cowok pertama kali ya... kelas tiga SD hahahaha.. sama aja ternyata.


4. Sifat

Bile dan Kevin juga punya sifat yang lumayan berbeda. Bile termasuk anak yang penuh cinta. Loveable juga ni anak. Dia akan selalu mengucapkan terimakasih, permisi, maaf, love u sambil nyium bibir. Iya bibir saya. Asik kan? Hihihi...
Kalau mau berangkat sekolah atau kemana aja dia akan pamitan ke semua orang yang ada di rumah. Salim gitu. Gak pernah lupa berdoa sebelum makan dan sebelum tidur. Dan suka ngingetin juga kalau yang lain gak berdoa. Sebelum tidur akan masuk kamar saya dan say gudnite. Pas saya ulang tahun juga dia nulis ucapan ultah sampe panjang lebar gitu, surat cinta lah pokoknya.

Kevin rada gengsi nih kalo soal sayang menyayang. Udah mulai malu kalo dipeluk di depan teman-temannya. 
Dan Kevin ini sulit banget bilang maaf, kadang suka gemes juga. Harus dibilangin dulu baru dia mau ngalah. Soal apa aja seringnya berdebat dulu. Huff... lagi


Jadi begitulah. Kesimpulannya , sebagai orang tua kita juga mesti menurunkan ego, mesti mendengar apa kata anak-anak selagi itu baik buat mereka. Sulit ya bow.. tapi ya harus dilakukan. Pengennya sih jadi orangtua yang dikenang anak-anak sebagai orangtua yang asyik, yang gak dominan, yang bisa memahami dunia mereka. Semoga, amin...




Rabu, 20 Agustus 2014

Latepost : Ied Mubarak Holiday

Yuhuuu... libur lagi.... Baru aja abis libur kenaikan kelas, masuk seminggu, eh udah libur lebaran. Dan dipastikan kiddos minta jalan-jalan mulu. By the way, ini saya ngetik pake smartphone, lagi males gotong-gotong lappy ke kamar atas. Jadi kalau misal ada typo nanti ajalah ya benerinnya hihihi.

Selama libur kenaikan kelas, kiddos dimanjakan dengan Om Pie dan Tante Dita yang kebetulan bisa off bareng, terus gak lama Auntie Linda dan kakak Jeremy dateng ke Jogja. Bener-bener puas dah mereka. Walaupun pas liburan si Papa sempet opname, tapi kiddos tetep saya titipkan Auntie, jalan-jalan, nonton, main... biarlah Auntie yang urus *pelukpelukauntieLinda


Puji Tuhan tahun ini kantor saya libur seminggu, dari tanggal 26 Juli baru masuk lagi tanggal 4 Agustus, itu juga karena saya gak nambah cuti. Nabung ajalah buat libur natal nanti. Toh gak kemana-mana juga. Cuma seputaran Jogja aja.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mau kemana ya kalau di Jogja
paling disitu-situ aja. Sempet sih beberapa kali ke Amplaz, nemenin kiddos main. Trus sempet ke Waterpark juga... mayan... memanjakan kiddos. Dan saya juga ikutan main air hihii... seru.... 


Kalau musim Lebaran gini saya jadi inget beberapa tahun lalu. Beda banget deh suasananya. Waktu saya masih siaran radio, sebagai satu-satunya penyiar non muslim, saya harus rela siaran full di hari raya, dimana semua toko tutup, angkutan gak ada yang jalan, seharian cuma makan mie instan hahahaha menyedihkan. Paling nungguin ada fans yang berbaik hati ngirimin makanan. Iyak jaman itu ya.. masih kuliah dan masih berjaya di udara.. halah...
Sering juga dibawain Mas Yanu, ehm mantan pacar Kak Yen makanan, dari Ibu nya yang baik hati.

Setelah bekerja beneran, saya juga sering kebagian piket di hari Lebaran. Ya gitu deh, namanya juga kaum minoritas, gak apa-apa juga kan dapet ekstra work on holiday hihi. Yang bikin susah sebenernya deg-deg an kira-kira si mbak bakal balik apa gak. Bukan apa-apa waktu itu, 5 tahun lalu kiddos masih kecil. Saya harus kerja, gimana ceritanya kalau sampe si Mbak gak balik ke rumah. Kalau sekarang, wah... anak-anak udah gede, udah bisa santai lah pokoknya. Apalagi sekarang mall buka, laundry juga banyak yang buka, supermarket hampir semua buka, gak terlalu susah nyari bahan makanan atau makanan jadi. 


Begitu deh cerita libur Lebaran kali ini, lagi males posting panjang-panjang hahaha.. gak niat banget deh... 




Rabu, 14 Mei 2014

I Will Love (both) of you unconditionally

Botak Aja
  
Me : Kevin.. potong rambut yuk...

Kev : aaah tar aja... eh tapi gak apa-apa deh, tapi mama nganterin aja ya, yang tentuin model aku sendiri

Me : ya udah gitu juga boleh, lagian cepet banget sih rambut Kevin panjang, barusan juga dipotong udah gondrong lagi

Bile : Iyaaa makanya... DIBOTAKIN aja hiihihihihi


Arti Penting Keluarga 
 
Selesai sekolah Minggu, Bile naro Alkitabnya sembarangan

Me : Bile.. Alkitabnya dibawa dong

Bile : Bawain dong... *cool*

Me : Loh..ini kan Alkitab Bile, bawa sendiri lah

Bile : Yaelah Ma..itu kan dulu Alkitab Opa, Mama itu BAGIAN dari ANAKNYA OPA kan.. Bawain dong... *sambil ngasi alkitab ke tangan emaknya*

Me : @_@ kalah lagiiiiiii


Intinya, Bersyukur 

 
Me : Bile... Ini kok nilainya cuma 68? Coba Mimo liat, ni semua karena Bile gak teliti jawab ujiannya

Bile : tapi kan nilai agama sama Ipa ku aja bagus, 80 tuh

Me : iya, tapi ini B. Indo cuma segini, gak teliti sih ..

Bile : *sambil ngelus-elus kepala saya* udahlah Mo, kita itu harus bersyukur, biar nilai jelek harus bersyukur kepada Tuhan *ngeloyor*

Me : -__________-"



Kasih Pasti Lemah Lembut 

 
Ada kejadian Bile dipukul temen sekelasnya sampe bibirnya jontor.

Ditanya wali kelas

Guru : Bile,bibirnya kenapa nak?

Bile : gak ditonjok Maxi kok bu,beneran

Guru tau kalau Bile ditonjok Maxi,disampaikan ke saya

Me : kenapa Bile gak ngaku kalau ditonjok Maxi? Itu kan sakit, mama denger Maxi memang sering ganggu temen2 bla bla bla *emosi*

Bile : Loh ma,kasih itu kan memaafkan.aku udh maafin Maxi kok *kalem*

 

Nah, begitulah sebagian kecil percakapan saya dan kedua anak saya, kelihatan kan yang paling jago ngeles siapa di antara dua bocah itu? Tentu saja the winner goes to.... BILE !! Hahahaha.... 

Nah, sebelum saya cerita yang lain, saya mau cerita dulu mengenai kedekatan Bile sama teman sekelasnya yang namanya Maxi. Setelah saya bicara dengan wali kelas, baru lah saya tahu kalau Maxi ternyata berkebutuhan khusus. ADHD, dimana si Maxi agak susah konsentrasi dan mengutarakan pendapatnya. Kalau dia gak suka ya mukul, bicara juga bukan kalimat yang panjang. Tapi anak ini lucuuuu banget wajahnya gemesin, kata Bile "Muka Maxi tu emut...lucu.." Dan emang iya, saya aja gemes liatnya. Jadi, Bile saya ajarin untuk bicara dengan Maxi sambil melakukan kontak mata, bicara pelan-pelan. Hasilnya saya dengar dari teman-teman sekelas Bile, si Maxi udah jarang banget mukul, kalau dia mulai gusar, teman-temannya mempraktekkan apa yang saya ajarkan ke Bile, ngomong pelan-pelan sambil menatap matanya "Maxi..gak boleh mukul ya..." dan minta Maxi untuk mengulang kalimat "gak boleh mukul". 
Saya gak pernah bicara langsung dengan orang tua Maxi yang katanya dua-duanya bekerja. Setiap hari dia cuma dianterin oleh pengasuh, tapi kabarnya sih orangtuanya sudah pasrah aja, memang anaknya berkebutuhan khusus dan kemungkinan akan dipindah ke sekolah yang ada program inklusi. 

Dengar Maxi mau pindah, Bile raut mukanya sedih. Dia emang seneng banget main sama Maxi, bisa 'ngemong' sementara teman-teman yang lain kadang menjauhi, karena katanya Maxi nakal, Bile bisa melihat bahwa sebenernya Maxi bukan anak nakal, jadi dia bener-bener belain Maxi, dia bilang "Maxi gak sengaja mukul Ma... dia cuma minta aku main sama dia, padahal aku lagi makan". 
Contoh lain waktu mereka pawai keliling naik kereta kelinci, Si Bile minta duduk dekat Maxi dan mau jelasin apa saja yang mereka lihat sepanjang jalan. 

Tadi pagi, pas nganter ke sekolah, Bile dan teman-temannya termasuk Maxi main kejar-kejaran. Yang jadi 'hantu' nya harus ngejar teman-teman dan siapapun yang kesenggol akan gantian jadi 'hantu'. Semua naik ke kursi tempat duduk penjemput, kecuali Maxi. Saya panggil mereka "Ayo semua foto..sini liat sini... " Teman-temannya teriak "Maxi jangan... nanti kita semua jadi!" Tapi Bile dengan gagahnya narik tangan Maxi untuk naik "Max, sini ikutan foto, gak apa-apa, nanti main lagi", dan Bile teriak "Ayo semua... gaya pemain bola" 
Maka jadilah foto ini, hihihihihi

 
 














Soal cewek nih, yang ditaksir Bile dan sekelas udah pada tau semua kalau Isabel anak berambut panjang yang cantik itu sejak TK adalah 'pacar' Bile, baru-baru ini ada percakapan begini:

Kevin : Ma.. tapi ini rahasia, bener-bener rahasia, gak boleh disampaikan ke mama nya ya

Me     : Hmmm gimana?

Kevin : si Cynthia itu naksir aku loh ma... katanya sih dia cerita sama Devon kalo dia naksir aku, tapi dia bukan tipe aku

Me    : *glek*

Bile   : Eh...eh... Si Abel juga bukan tipe aku lagi loh padahal dia suka sama aku

Me    : Kenapa?

Bile   : Soalnya biarpun cantik dia suka pilih-pilih teman. 

Upsss.... hahahahha... Jadi ternyata si Bile ini memang melihat bukan hanya dari fisik atau tingkah laku aja, tapi dia tulus sayang sama teman. 


KEVIN 

Nah, sekarang cerita soal Kevin. Si sulung yang udah sembilan tahun lebih usia nya. Tanggung jawab soal pelajaran sudah lumayan lah, dia bakalan feeling guilty kalau nilainya kurang dari target. Sayangnya si Kevin ini pelupa, namanya tempat minuman untuk dibawa ke sekolah kalau gak ketinggalan di rumah ya ketinggalan di sekolah *tepok jidat*
Waktu perayaan hari Paskah sekaligus hari Kartini April lalu, anak-anak dikasi kesempatan ikut lomba menghias telur paskah, lomba ketangkasan berkelompok dan lomba keluwesan berbusana daerah. Dasar si Kevin yang maunya cuma pakai baju body fit dan warna hitam, milihnya lagi-lagi baju adat Jawa warna hitam. Duh... tadinya sih dia pengen baju Madura atau Dayak, tapi di tempat persewaan baju daerah itu gak ada  yang cocok sama dia. Nah, ini lah fotonya



















Bile juga ikutan :p

















Dan.. hasilnya, Kevin terpilih sebagai pemenang lomba menghias telur kelas 3. Dan Juara keluwesan berbusana daerah. Hebat ya Kevin ^_^

Bile dapet apa? Dapet matahin keris sewaan hahahaha...

 Ah, ada-ada aja.. Next saya mau cerita soal mereka lagi. Tapi ini cukup dulu lah... hihihii